Tarqiyah : Ramallah – Petinggi Gerakan Perlawanan Islam Hamas Syaikh Hasan Yusuf menolak pernyataan Menlu Austria Sebastian Curtis yang meminta gerakan Hamas mengakui entitas Zionis dan meninggalkan perlawanan bersenjata.
Hasan Yusuf mengatakan, apapun intervensi dalam urusan Palestina oleh pihak-pihak asing adalah tertolak mentah-mentah dan tidak boleh ada yang melakukan provokasi dan mendiktenya.
Pernyataan Sebastian Curtis tersebut disampaikan di gedung Kementrian Luar Negeri Otoritas Palestina di Ramallah menyusul kabar penandatanganan rekonsiliasi Palestina antara gerakan Fatah dan Hamas di Jalur Gaza, dalam konferensi pers yang dia adakan hari Rabu (23/4) malam.
Curtis mengatakan, “Kami memiliki pemahaman yang besar bahwa orang-orang Palestina berusaha untuk mencapai kesepakatan agar mereka memiliki persatuan Palestina. Hal ini positif selama itu adalah kemajuan dan bukan langkah ke belakang. Dan itu melalui pengembangan sikap-sikap Hamas dengan mengakui ‘Israel’ dan meninggalkan kekerasan. Tidak boleh lagi kembali ke lingkaran kekerasan yang dulu terjadi di sini.”
Syaikh Hasan Yusuf menjelaskan bahwa rekonsiliasi Palestina adalah urusan internal Palestina dan branga Palestina lah yang menentukan nasibnya dan bukan orang lain. Dia mempertanyakan, “Apakah masuk akal, meminta dari faksi terntentu yang beroposisi untuk mengakui ‘Israel’?” Dia menyatakan hal ini bertentangan dengan logika dan kebenaran. (pip)
Wallahu A‘lam.
Hasan Yusuf mengatakan, apapun intervensi dalam urusan Palestina oleh pihak-pihak asing adalah tertolak mentah-mentah dan tidak boleh ada yang melakukan provokasi dan mendiktenya.
Pernyataan Sebastian Curtis tersebut disampaikan di gedung Kementrian Luar Negeri Otoritas Palestina di Ramallah menyusul kabar penandatanganan rekonsiliasi Palestina antara gerakan Fatah dan Hamas di Jalur Gaza, dalam konferensi pers yang dia adakan hari Rabu (23/4) malam.
Curtis mengatakan, “Kami memiliki pemahaman yang besar bahwa orang-orang Palestina berusaha untuk mencapai kesepakatan agar mereka memiliki persatuan Palestina. Hal ini positif selama itu adalah kemajuan dan bukan langkah ke belakang. Dan itu melalui pengembangan sikap-sikap Hamas dengan mengakui ‘Israel’ dan meninggalkan kekerasan. Tidak boleh lagi kembali ke lingkaran kekerasan yang dulu terjadi di sini.”
Syaikh Hasan Yusuf menjelaskan bahwa rekonsiliasi Palestina adalah urusan internal Palestina dan branga Palestina lah yang menentukan nasibnya dan bukan orang lain. Dia mempertanyakan, “Apakah masuk akal, meminta dari faksi terntentu yang beroposisi untuk mengakui ‘Israel’?” Dia menyatakan hal ini bertentangan dengan logika dan kebenaran. (pip)
Wallahu A‘lam.

Posting Komentar