Tarqiyah : SU-ISU sesat yang dilemparkan untuk memojokkan partai-partai politik berbasis masa Islam ternyata tak efektif. Bendera parpol Islam (begitu kita sebut selanjutnya) tetap berkibar. Jika parpol-parpol tersebut membangun koalisi, harapan Indonesia Raya yang sehat dan hebat tetap terbuka lebar.
Sejak lama, pikiran dan perbuatan untuk memojokkan parpol Islam berjalan cukup massif dan terstruktur.
Satu hal yang coba-coba diluncurkan adalah bahwa ada perbedaan mendasar parpol-parpol Islam dan nasionalis menyangkut rasa dan sikap berbangsa. Seolah-olah parpol Islam adalah partai agama dan karena itu tak memiliki nasionalisme.
Kesan seperti itu sebenarnya adalah lagu lama, lagu pecah-belah yang bahkan sudah ada sejak zaman penjajahan dulu. Ketika terjadi perpecahan di kalangan Syarikat Islam, antara Syarikat Islam Merah dengan Syarikat Islam sesungguhnya. Anehnya, entah bagaimana kita menyikapi perjalanan sejarah, daya pecah belah itu masih ada sampai sekarang.
Padahal, sejarah juga membuktikan kepada kita sepanjang masa, praktis tak pernah ada gerakan, baik organisasi maupun parpol Islam yang berniat hendak menghancurkan bangsa ini.
Kalaupun kita sepakat bahwa gerakan-gerakan pemberontakan yang terjadi di negeri ini sejak prakemerdekaan sampai sekarang kita sebut sebagai upaya hendak menghancurkan bangsa, maka marilah kita hitung seberapa banyak pemberontakan yang dilakukan organisasi atau parpol Islam dengan organisasi atau parpol nasionalis?
Maka, menjadi sesuatu yang wajar jika sekali waktu, Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan, Suryadharma Ali tegas-tegas menyatakan kegalauannya. Seolah-olah parpol Islam itu tidak memiliki nasionalisme tinggi. Seolah-olah nasionalisme bangsa ini hanya dimiliki oleh parpol-parpol nasionalis.
Buat kita, persoalan nilai-nilai nasionalisme kebangsaan itu sudah berakhir begitu kita menyepakati Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Tidak lagi ada persoalan yang seharusnya diperdebatkan.
Tetapi, gerakan-gerakan politik rupanya seperti itu, selalu mencari cara apapun untuk menihilkan makna lawan politiknya. Gerakan-gerakan seperti itu, setidaknya kita rasakan menjelang Pemilu Legislatif lalu.
Mereka-mereka yang bermain di wilayah politik berupaya mengerdilkan parpol Islam. Dari isu korupsi (padahal lebih banyak kader partai nasionalis yang jadi koruptor ketimbang parpol Islam), sampai survei-survei yang dengan kesombongan tinggi menyatakan parpol Islam semakin terpuruk.
Entah bagaimana rupa mereka yang mencoba “membunuh” parpol Islam itu melihat kenyataan kini. Bukannya melorot, suara parpol Islam mengalami peningkatan signifikan. Jika lima parpol Islam yang kini bertahan, pada Pemilu 2009 lalu meraih 25,94% suara, kini meningkat jadi 31,9% berdasarkan hitung cepat.
Tentu sebuah pukulan yang amat telak buat mereka. Mungkin setelak pukulan Muhammad Ali meruntuhkan keangkuhan George Foreman pada ronde kedelapan di Kinshasa, 40 tahun lalu.
Tetapi, upaya untuk mengkerdilkan parpol Islam tetap berjalan oleh “si tebal muka”. Termasuk menyepelekan gagasan membangun koalisi Indonesia Raya dengan menyatukan parpol Islam dengan satu-atau dua partai nasionalis.
Buat kita, sampai pendaftaran capres-cawapres ditutup, munculnya calon pemimpin perpaduan nasionalis-Islam adalah sebuah keniscayaan. Tidak bisa ditolak dan sebaliknya selayaknya mendapatkan dukungan karena kita yakini akan menghadirkan harmonisasi kepemimpinan bangsa.
Di tengah dekadensi moral bangsa yang terjadi, maka yang dibutuhkan Indonesia adalah pemimpin yang memiliki moralitas kebangsaan.
Sebab, kita yakin hanya dengan moralitas kebangsaan yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945, maka bangsa ini akan selamat menghadapi persaingan internasional sekaligus memunculkan bangsa yang memiliki integritas dengan tetap berpijak pada politik internasional yang bebas dan aktif, tanpa tergantung salah satu kutub, tanpa tergadai pada satu aliran. (*)
 Wallahu A‘lam.

Post a Comment

أحدث أقدم