Tarqiyah : Pengamat ekonomi yang juga Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng mengungkapkan, setidaknya ada empat warisan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang akhir masa jabatannya yang bakal memberatkan bangsa ini.
“Yakni, utang luar negeri yang menggunung, korupsi merajalela, ketimpangan sosial yang menggila, kepemilikan aset-aset di Indonesia oleh asing,” bebernya, Sabtu (22/2/2014).

Pertama, utang luar negeri yang menggunung. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar 264,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp3.116,380 triliun. Angka ini meningkat 3,7 persen dibandingkan ULN bulan November 2013 sebesar 260,3 miliar dollar AS.


Kedua, korupsi merajallela. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mengatakan, korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crimes), karena sudah merasuki ke semua lembaga negara dan semua sektor dari daerah hingga pusat.
Ketiga, ketimpangan menggila. Data LPS 31 November 2013 menyebutkan jumlah dana nasabah kaya bank dengan simpanan di atas Rp5 miliar mencapai Rp1.570,1 triliun, dengan jumlah rekening 63.406. Jumlah ini naik mencapai Rp 7,1 triliun (0,46%) sebulan. Maka dengan demikian jumlah tabungan nasabah kaya mencapai 3 kali lipat pendapatan 110 juta penduduk miskin setahun, atau mencapai 37 kali lipat pendapatan 110 juta penduduk miskin setiap bulan.

Keempat, rakyat akan menumpang pada asing. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan sinyal positif dibukanya aturan tentang kepemilikan asing di properti. Dukungan diberikan guna memanfaatkan momentum positif perekonomian nasional yang terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang. “Banyak yang tidak suka dengan aturan kepemilikan properti oleh asing ini karena dianggap neoliberal,” jelas Daeng.

Salamuddin Daeng memaparkan, satu-satunya capaian pemerintahan SBY selama 9 tahun adalah memproduksi segilintir orang kaya di atas kemiskinan dan penderitaan ratusan juta penduduk. Keadaan ini ditunjukkan oleh data tingkat ketimpangan ekonomi yang tinggi.

Data LPS 31 November 2013 menyebutkan jumlah dana nasabah kaya bank dengan simpanan di atas Rp 5 miliar  mencapai Rp 1.570,1 triliun, dengan jumlah rekening 63.406. Jumlah ini naik mencapai Rp 7,1 triliun (0,46%) sebulan.

“Data di atas hanya jumlah simpanannya, belum termasuk asset  bergerak maupun tidak bergerak, akumulasi kekayaan property  yang sudah pasti lebih besar dari tabungan mereka. Sehingga dapat dibayangkan betapa kayanya mereka,” jelas Daeng.

“Bandingkan dengan income 110 juta penduduk Indonesia  yang berpedapatan perkapita 2 dolar PPP (1 dolar PPP = Rp 6.500) perhari atau sebesar 13.000/hari. Maka secara keseluruhan pendapatan 110 juta penduduk Indonesia per tahun adalah Rp. 13.000 x 360 X 110 juta= 514,8 triliun,” lanjutnya.

Itu pun, menurut dia, income orang miskin habis hanya untuk membeli makan setiap bulan dan tidak sempat diakumulasi menjadi tabungan. “Sehingga dapat dibayangkan pula betapa miskinnya 110 juta rakyat Indonesia tersebut,” bebernya.

Maka dengan demikian, tegas dia, jumlah tabungan nasabah kaya mencapai 3 kali lipat pendapatan 110 juta penduduk miskin setahun, atau mencapai 37 kali lipat pendapatan 110 juta penduduk miskin setiap bulan.

“Secara alamiah ketimpangan ekonomi merupakan hasil dari ekonomi liberal, yang dibangun diatas eksploitasi manusia atas manusia disertai pemerintahan korup. Secara alamiah pula ketimpangan ekonomi akan menghasilkan kecemburuan sosial dan dapat berakhir dengan kerusuhan sosial,” tambahnya.

Ia mengungkapkan, orang orang susah di sekitar kita kian meradang, menderita lahir dan batin, sementara segelintir orang orang kaya yakni para penguasa, elite politik, pejabat negara, anggota DPR, setiap hari sibuk berpesta pora merampok uang negara. (pst/hs/in/to)
 Wallahu A‘lam.

Post a Comment

أحدث أقدم